📅 Senin, 26 Oktober 2026
14 Jumadil Awal 1448 H

MAJELIS ALKAUTSAR INDONESIA

kajian ilmu

Luka adalah tempat Cahaya masuk

kebenaran seringkali memang harus melewati penderitaan, kesengsaraan dan kondisi tidak nyaman,
disukai atau pun tidak.

“Keterdesakan dan luka yang dirasakan Maryam, mendorong bayi Isa as untuk berbicara”

Mukjizat tidak muncul dalam kondisi tidur bersantai atau sambil menikmati secangkir kopi panas di café, tapi lewat kondisi sangat dibutuhkan atau Bahasa lain lewat keterpaksaan.

Nabi Musa as tidak dengan iseng mengayunkan tongkat agar berubah menjadi ular untuk membuat Fir’aun takjub dan takut, pun tidak dengan bercanda mengayunkan tongkat ke laut agar laut terbelah, kondisi mukjizat itu muncul ketika Musa benar benar dalam keterpaksaan bahkan pada kondisi putus asa.

Satu hal yang kadang sering kita lupakan bahwa cara kerja Allah dengan cara kerja manusia itu berbeda.

Cara Allah memberi Pelajaran hidup kepada kita dan cara kita memahami hidup terkadang juga berbeda sehingga seringkali kita berprasangka buruk kepada-Nya.

Nabi Muhammad SAW lahir dalam kondisi yatim, tidak lama kemudian menjadi yatim piatu.

kondisi Nabi SAW masa kecil yang begitu tidak mengenakkan. Seorang pengembala kambing itu adalah simbol kurangnya kasih sayang dan kurangnya kepedulian.
Kondisi tidak nyaman masa kecil, menjadi anak yatim yang kurang kasih sayang memberikan cara pandang Nabi terhadap anak yatim begitu berbeda dengan orang sezamannya.

Nabi SAW tidak perlu harus diberitahukan oleh Allah untuk sayang kepada anak yatim, Pelajaran itu sudah demikian sempurna Beliau dapatkan ketika menjalani kehidupan sebagai yatim piatu.
Empati kepada sesama yang menjadikan sosok berbeda, menjadi seorang pemimpin besar dan dikenang sepanjang zaman.

Jika kita memahami bahwa segala yang terjadi memang sudah di-skenario-kan oleh Allah untuk kebaikan kita sendiri maka atas pemahaman ini kita akan bisa menerima apapun yang terjadi kepada kita.
Kita seringkali bisa bersyukur setelah peristiwa itu selesai dan begitu tidak sabar ketika menjalaninya.

”Suatu saat kau akan mengalami diberi cobaan oleh Allah, jangan kau mengeluh apa lagi memaki-maki Tuhan”.

Memang benar setiap penempuh jalan kebenaran akan melewati kerikil yang sama, debu yang sama dan ketidaknyamanan yang sama karena memang jalannya sama.

Satu hal yang akal fikiran tidak sanggup mencernanya adalah memahami kepercayaan yang tumbuh setelah melewati fase demi fase, keraguan demi keraguan, penyangkalan demi penyangkalan.

Spiritual yang masih berisi belajar tanya jawab bukanlah spiritual.
Spiritual itu terjadi ketika tidak ada lagi pertanyaan dalam diri, hanya menjalankan dan menikmati saja.

”Ketika kau mengalami cobaan, dalam kondisi susah, disitulah kau berdoa karena doa orang yang menderita itu dikabulkan oleh Allah”

Pada akhirnya Luka itu bisa dikelola dan bisa di kondisikan jika memang sudah ahli. Tidak harus mengalami derita secara fisik dan mental terlebih dulu untuk memahami apa yang dinginkan oleh Allah, tapi bisa diciptakan lewat zikir, suluk dan puasa, suasana tidak nyaman yang mengantarkan kita kepada pencerahan.

seekor ulat tidak akan menjadi seekor kupu-kupu nan cantik jika dia tidak bersusah payah keluar dari kepompong setelah menjalani puasa begitu Panjang sampai kondisi antara hidup dan mati.

“Jika kau masih mengalami luka, marah, sedih, susah…engkau belum kuat,
ketika engkau tidak lagi mengalami itu semua, saat itulah kau menjadi kuat”

memang ada sekolah tidak ada ujian?