kajian ilmu
Do'a yang tidak terkabulkan
“Ya Allah... aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusuk, dari nafsu yang tidak pernah puas dan dari doa-doa yang tidak terkabul” (HR. Muslim)
Doa adalah ibadah dan doa juga merupakan senjata orang beriman. Sebagaimana senjata pada umumnya, doa harus di riset atau diuji coba berulang kali agar benar-benar menjadi senjata yang ampuh dan mujarab.
Ketika doa tidak terkabul dan tidak dijawab artinya doa tersebut tidak menjadi senjata.
Salah satu doa yang dipanjatkan Nabi kepada Allah adalah agar doa-doa Beliau terkabul dan agar dihindari dari doa-doa yang tidak terkabul.
***Analogi***
Ibarat kita mendatangi seorang pimpinan, misalnya pimpinan bank dengan niat meminjam uang.
Ketika menghadap pimpinan bank tersebut, yang kita bawa adalah orang yang paling dia benci, punya riwayat dan reputasi jelek dibank, dan blacklist bank, tentu saja dari awal permohonan kita sudah langsung di tolak. Sebaliknya kalau yang kita bawa ketika menghadap pimpinan tersebut orang yang dia sukai, walau sederhana tapi dipercaya dan riwayat perbankan baik maka permohonan kita akan cepat dikabulkan, Karena direkomendasikan.
Demikian memohon kepada Allah, menghadapkan wajah kita kepada-Nya dalam doa dan munajat, yang kita bawa adalah Iblis yang dilaknat,
yang bersembunyi di dalam dada tanpa disadari (Surat An-Nas) tentu saja setiap doa akan tertolak secara otomatis.
Namun jika yang kita bawa adalah unsur dari Dia sendiri, Kekasih-Nya, cahaya-Nya, tentu saja ALLAH akan menerima dan mengabulkannya.
Nabi pernah ditanya kenapa doa tidak dikabulkan, Beliau menjawab, “Mereka yang berdoa tidak mengenal Tuhannya”. Disamping membawa musuh juga tidak mengenal dengan baik sosok yang kita mohonkan.
Kita tidak mengenal sama sekali pimpinan yang kita hadapi sehingga bisa jadi kita salah dalam bersikap dan bertutur kata.
Mungkin kita belum sampai ke tahap mengenal Dia dengan baik dan benar, tapi kita bisa membawa sosok yang dekat dengan-Nya, sosok yang dkenal-Nya yaitu kekasih-Nya,
lewat itulah doa-doa kita tersampaikan dan dibalas. Bukankah Allah telah berfirman, “Tidak akan sampai kepada-Ku kecuali lewat Rasul-Ku”. “Semua doa itu terhalang, sampai dibacakan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
Shalawat tentu saja bukan sekedar ucapan tapi rohani ikut tersambung kepada Rasulullah SAW dan seterusnya akan tersambung kepada Allah SWT, sambungan rohani itulah yang menyebabkan doa-doa kita sampai kepada Allah SWT. Sambungan rohani ini mutlak diperoleh agar kita terbebas dari “duga-duga” dan “kira-kira”.
Karena itulah kenapa orang-orang yang bertawasul memperoleh keajaiban-keajaiban di dalam doanya, hal yang tidak diperoleh oleh orang yang tidak bertawasul apalagi menolak tawasul.
Orang yang menolak tawasul karena dia menganggap kalau berdoa dengan menyebut nama Nabi atau Wali itu sama dengan meminta kepada selain Allah, inilah kebodohan dari kebodohan yang tujuan utama menolak tawasul untuk menghindari syirik justru terjebak ke dalam kemusyirikan tanpa di sadari.
Doa adalah ibadah dan doa juga merupakan senjata orang beriman. Sebagaimana senjata pada umumnya, doa harus di riset atau diuji coba berulang kali agar benar-benar menjadi senjata yang ampuh dan mujarab.
Ketika doa tidak terkabul dan tidak dijawab artinya doa tersebut tidak menjadi senjata.
Salah satu doa yang dipanjatkan Nabi kepada Allah adalah agar doa-doa Beliau terkabul dan agar dihindari dari doa-doa yang tidak terkabul.
***Analogi***
Ibarat kita mendatangi seorang pimpinan, misalnya pimpinan bank dengan niat meminjam uang.
Ketika menghadap pimpinan bank tersebut, yang kita bawa adalah orang yang paling dia benci, punya riwayat dan reputasi jelek dibank, dan blacklist bank, tentu saja dari awal permohonan kita sudah langsung di tolak. Sebaliknya kalau yang kita bawa ketika menghadap pimpinan tersebut orang yang dia sukai, walau sederhana tapi dipercaya dan riwayat perbankan baik maka permohonan kita akan cepat dikabulkan, Karena direkomendasikan.
Demikian memohon kepada Allah, menghadapkan wajah kita kepada-Nya dalam doa dan munajat, yang kita bawa adalah Iblis yang dilaknat,
yang bersembunyi di dalam dada tanpa disadari (Surat An-Nas) tentu saja setiap doa akan tertolak secara otomatis.
Namun jika yang kita bawa adalah unsur dari Dia sendiri, Kekasih-Nya, cahaya-Nya, tentu saja ALLAH akan menerima dan mengabulkannya.
Nabi pernah ditanya kenapa doa tidak dikabulkan, Beliau menjawab, “Mereka yang berdoa tidak mengenal Tuhannya”. Disamping membawa musuh juga tidak mengenal dengan baik sosok yang kita mohonkan.
Kita tidak mengenal sama sekali pimpinan yang kita hadapi sehingga bisa jadi kita salah dalam bersikap dan bertutur kata.
Mungkin kita belum sampai ke tahap mengenal Dia dengan baik dan benar, tapi kita bisa membawa sosok yang dekat dengan-Nya, sosok yang dkenal-Nya yaitu kekasih-Nya,
lewat itulah doa-doa kita tersampaikan dan dibalas. Bukankah Allah telah berfirman, “Tidak akan sampai kepada-Ku kecuali lewat Rasul-Ku”. “Semua doa itu terhalang, sampai dibacakan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
Shalawat tentu saja bukan sekedar ucapan tapi rohani ikut tersambung kepada Rasulullah SAW dan seterusnya akan tersambung kepada Allah SWT, sambungan rohani itulah yang menyebabkan doa-doa kita sampai kepada Allah SWT. Sambungan rohani ini mutlak diperoleh agar kita terbebas dari “duga-duga” dan “kira-kira”.
Karena itulah kenapa orang-orang yang bertawasul memperoleh keajaiban-keajaiban di dalam doanya, hal yang tidak diperoleh oleh orang yang tidak bertawasul apalagi menolak tawasul.
Orang yang menolak tawasul karena dia menganggap kalau berdoa dengan menyebut nama Nabi atau Wali itu sama dengan meminta kepada selain Allah, inilah kebodohan dari kebodohan yang tujuan utama menolak tawasul untuk menghindari syirik justru terjebak ke dalam kemusyirikan tanpa di sadari.