kajian ilmu
Do'a dan meminta
Sedikit sedikitlah berdoa, bila perlu tak usah...!
Itulah saran yang bisa di sampaikan untuk anda.
Pada kenyataannya banyak orang yang berdoa tidak meminta, sebaliknya orang yang meminta sesungguhnya telah memanjatkan doanya.
Secara harfiah doa dipahami adalah permintaan, harapan yang didahului puja puji kepada Allah swt. Sejatinya doa yang disampaikan itu adalah sesuatu yang pasti dimengerti oleh si peminta, demikanlah terminology dasar sebuah doa. Namun agaknya terminology tersebut telah berkembang menjadi atas segala sesuatu yang dipanjatkan kepada Allah adalah sebuah doa terlepas dimengerti atau tidak oleh si empunya doa.
Disinilah letak permasalahan antara doa dan pinta.
Pada zaman para nabi nabi, doa dipanjatkan berdasar kebutuhan si pendoa yang dikomunikasikan dengan bahasa yang dimengerti yaitu bahasa mereka sendiri. Beberapa doa mereka berhasil diriwayatkan dengan sangat baik oleh para ahli rawi bahkan doa doa RasuluLLAH berhasil di rangkumkan menjadi sebuah buku kumpulan mutiara doa doa rasuluLLAH dan sejenisnya.
Dan hari ini generasi kita sibuk menghapal doa-doa tersebut dan mencoba melafazkan sefasih mungkin sehingga tanpa sadar mencoba menyamakan kapasitas diri dengan kapasitas nabi dengan melafazkan doa-doa beliau yang notabene adalah kebutuhan Nabi yang dipintakan sebagai pengemban misi utusan ALLAH bagi umat dan alam...
Atau semua kita menengadahkan tangan sambil berucap amin.. amin.. sebagai harapan dikabulkannya doa yang dibacakan oleh ustad pada acara acara selamatan di kelurahan maupun khanduri di rumah, apalagi di dalam mesjid waktu jumatan atau usai shalat magrib saat berdoa bersama.
Sesungguhnya apa yang di doa oleh si pendoa...?
Mengertikah kita....?
Anggaplah kita mengerti bahasa arab, lalu apakah yang di dalam doa orang lain tersebut juga merupakan kebutuhan kita...? Atau haruskah doa selalu dalam bahasa arab....?
Tentu saja Allah sangat mengerti apa yang anda komunikasikan dalam bahasa apapun itu,
masalahnya adalah jika anda sendiri tidak tahu apa yang anda pinta lalu anda berharap Allah mengabulkannya...????
Kalau kamu berdoa dalam bahasa arab yang kamu tidak mengerti, itu kedengaran seperti orang bergumam hmm.. hmm.. atau nye..nye..nye..
Apa yang anda omongkan, kalau bicara sama Allah bicaralah yang mesra pakai bahasa ibu-mu (bahasa yang kau gunakan sehari hari yang pasti kau mengerti!)
‘Allah swt itu transaksional, jadi kalau anda meminta kepada Allah mintalah yang jelas, jangan hanya sekedar Rabbana atina fiddunnya hasanah… terlalu global,
bicaralah yang transaksional semisal:
Ya Allah... mobil Mercedes baru yang seri S itu cakep banget ya allah.., membuat saya tergila gila, mau dong ya allah.. tolonglah ya allah kasi saya satu yang warna abu-abu..’.
Ternyata selain harus mengerti pinta yang kita panjatkan agaknya harus jelas dan detil sebagaimana yang sebenarnya kita butuhkan agar Allah mengabulkan persis sesuai keinginan pinta kita.
Cara ’meminta’ yang sangat jelas dengan berkata ’bila kau ingin mobil seperti yang ada di majalah itu, ambil gambarnya dan mintalah kepada Allah dan tunjukkan gambarnya, ya Allah.. aku mau mobil yang seperti ini.. Tolonglah beri aku yang seperti ini ya Allah.. sambil jari yang menunjuk pada gambar mobil tersebut.
Kita kembali ke ’pinta’ dan mendalami apa hakikat dari ’pinta’ yang kita panjatkan. Saya teringat sebuah cerita ketika saya masih kanak kanak dulu tentang Aladin dengan lampu ajaibnya. (cerita disingkatkan) Si Aladin mendapat lampu ajaib, menggosoknya lalu keluarlah jin si penghuni lampu dan menawarkan kepada Aladin bahwa si jin akan mengabulkan 3 permintaannya.
Cerita berlanjut dan si jin sudah mengabulkan 3 permintaan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah si Aladin sudah cukup puas ketika sudah dikabulkan 3 permintaan oleh si jin penghuni lampu...?
Kenapa ia berusaha mendapatkan kembali ketika lampu tersebut di curi oleh orang lain walaupun permintaannya sudah dikabulkan...?
Saya dan anda mungkin akan berperilaku sama dengan si Aladin dalam upaya memperoleh kembali ’sumber’nya si lampu ajaib.
Jika saya analogikan cerita itu dengan diri anda apakah anda sudah cukup puas bila ‘segala sesuatu yang anda pinta’ dikabulkan oleh Allah...?
Kuat dugaan saya anda akan berusaha keras untuk menguasai sourcenya seperti Aladin.
Ketika anda sudah menguasai biangnya, apakah anda masih memerlukan yang lain...?
Pahamkah anda ketika Abu Bakar Shiddiq RA membawa seluruh hartanya dan menyerahkannya kepada Baginda Nabi untuk dibelanjakan di jalan ALLAH lalu Nabi bertanya kepada beliau ‘apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, ya Abu Bakar...?’
Abu Bakar Shiddiq RA menjawab ‘aku tinggalkan ALLAH dan RASULNYA’, (baca : perlombaan antara umar dan abu bakar).
Ya.. Abu Bakar tidak memerlukan yang lainnya..!
Abu Bakar telah memiliki sumbernya yaitu ALLAH dan RASULNYA.
Dengan bahasa lain ’Abu Bakar tidak perlu harta lagi karena sudah memiliki ”SUMBER HARTA”’.
Pinta pada hakikatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, adalah curhat, menyampaikan keluh kesah, kasih mengasihi, meminta dan memberi,
bukankah itu merupakan sesuatu hal yang dikatakan mesra....?.
Seperti cerita di atas ketika Allah mengabulkan pinta kita lalu dengan nafsu manusiawi serakah, kita ingin menguasai sumbernya. Tanyalah pada diri anda sendiri anda ingin apa, setelah hal itu dikabulkan anda mau apa lagi, setelah itu apa lagi… jadi pada intinya yang kita inginkan bukanlah harta, tahta atau apapun.. melainkan Allah itu sendiri!.
Itulah hakikat yang sebenarnya walau banyak manusia yang merasa telah cukup puas ketika pintanya dikabulkan lalu melupakan bahkan menjauh dari Allah, yang memberikan segalanya
Itulah saran yang bisa di sampaikan untuk anda.
Pada kenyataannya banyak orang yang berdoa tidak meminta, sebaliknya orang yang meminta sesungguhnya telah memanjatkan doanya.
Secara harfiah doa dipahami adalah permintaan, harapan yang didahului puja puji kepada Allah swt. Sejatinya doa yang disampaikan itu adalah sesuatu yang pasti dimengerti oleh si peminta, demikanlah terminology dasar sebuah doa. Namun agaknya terminology tersebut telah berkembang menjadi atas segala sesuatu yang dipanjatkan kepada Allah adalah sebuah doa terlepas dimengerti atau tidak oleh si empunya doa.
Disinilah letak permasalahan antara doa dan pinta.
Pada zaman para nabi nabi, doa dipanjatkan berdasar kebutuhan si pendoa yang dikomunikasikan dengan bahasa yang dimengerti yaitu bahasa mereka sendiri. Beberapa doa mereka berhasil diriwayatkan dengan sangat baik oleh para ahli rawi bahkan doa doa RasuluLLAH berhasil di rangkumkan menjadi sebuah buku kumpulan mutiara doa doa rasuluLLAH dan sejenisnya.
Dan hari ini generasi kita sibuk menghapal doa-doa tersebut dan mencoba melafazkan sefasih mungkin sehingga tanpa sadar mencoba menyamakan kapasitas diri dengan kapasitas nabi dengan melafazkan doa-doa beliau yang notabene adalah kebutuhan Nabi yang dipintakan sebagai pengemban misi utusan ALLAH bagi umat dan alam...
Atau semua kita menengadahkan tangan sambil berucap amin.. amin.. sebagai harapan dikabulkannya doa yang dibacakan oleh ustad pada acara acara selamatan di kelurahan maupun khanduri di rumah, apalagi di dalam mesjid waktu jumatan atau usai shalat magrib saat berdoa bersama.
Sesungguhnya apa yang di doa oleh si pendoa...?
Mengertikah kita....?
Anggaplah kita mengerti bahasa arab, lalu apakah yang di dalam doa orang lain tersebut juga merupakan kebutuhan kita...? Atau haruskah doa selalu dalam bahasa arab....?
Tentu saja Allah sangat mengerti apa yang anda komunikasikan dalam bahasa apapun itu,
masalahnya adalah jika anda sendiri tidak tahu apa yang anda pinta lalu anda berharap Allah mengabulkannya...????
Kalau kamu berdoa dalam bahasa arab yang kamu tidak mengerti, itu kedengaran seperti orang bergumam hmm.. hmm.. atau nye..nye..nye..
Apa yang anda omongkan, kalau bicara sama Allah bicaralah yang mesra pakai bahasa ibu-mu (bahasa yang kau gunakan sehari hari yang pasti kau mengerti!)
‘Allah swt itu transaksional, jadi kalau anda meminta kepada Allah mintalah yang jelas, jangan hanya sekedar Rabbana atina fiddunnya hasanah… terlalu global,
bicaralah yang transaksional semisal:
Ya Allah... mobil Mercedes baru yang seri S itu cakep banget ya allah.., membuat saya tergila gila, mau dong ya allah.. tolonglah ya allah kasi saya satu yang warna abu-abu..’.
Ternyata selain harus mengerti pinta yang kita panjatkan agaknya harus jelas dan detil sebagaimana yang sebenarnya kita butuhkan agar Allah mengabulkan persis sesuai keinginan pinta kita.
Cara ’meminta’ yang sangat jelas dengan berkata ’bila kau ingin mobil seperti yang ada di majalah itu, ambil gambarnya dan mintalah kepada Allah dan tunjukkan gambarnya, ya Allah.. aku mau mobil yang seperti ini.. Tolonglah beri aku yang seperti ini ya Allah.. sambil jari yang menunjuk pada gambar mobil tersebut.
Kita kembali ke ’pinta’ dan mendalami apa hakikat dari ’pinta’ yang kita panjatkan. Saya teringat sebuah cerita ketika saya masih kanak kanak dulu tentang Aladin dengan lampu ajaibnya. (cerita disingkatkan) Si Aladin mendapat lampu ajaib, menggosoknya lalu keluarlah jin si penghuni lampu dan menawarkan kepada Aladin bahwa si jin akan mengabulkan 3 permintaannya.
Cerita berlanjut dan si jin sudah mengabulkan 3 permintaan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah si Aladin sudah cukup puas ketika sudah dikabulkan 3 permintaan oleh si jin penghuni lampu...?
Kenapa ia berusaha mendapatkan kembali ketika lampu tersebut di curi oleh orang lain walaupun permintaannya sudah dikabulkan...?
Saya dan anda mungkin akan berperilaku sama dengan si Aladin dalam upaya memperoleh kembali ’sumber’nya si lampu ajaib.
Jika saya analogikan cerita itu dengan diri anda apakah anda sudah cukup puas bila ‘segala sesuatu yang anda pinta’ dikabulkan oleh Allah...?
Kuat dugaan saya anda akan berusaha keras untuk menguasai sourcenya seperti Aladin.
Ketika anda sudah menguasai biangnya, apakah anda masih memerlukan yang lain...?
Pahamkah anda ketika Abu Bakar Shiddiq RA membawa seluruh hartanya dan menyerahkannya kepada Baginda Nabi untuk dibelanjakan di jalan ALLAH lalu Nabi bertanya kepada beliau ‘apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, ya Abu Bakar...?’
Abu Bakar Shiddiq RA menjawab ‘aku tinggalkan ALLAH dan RASULNYA’, (baca : perlombaan antara umar dan abu bakar).
Ya.. Abu Bakar tidak memerlukan yang lainnya..!
Abu Bakar telah memiliki sumbernya yaitu ALLAH dan RASULNYA.
Dengan bahasa lain ’Abu Bakar tidak perlu harta lagi karena sudah memiliki ”SUMBER HARTA”’.
Pinta pada hakikatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, adalah curhat, menyampaikan keluh kesah, kasih mengasihi, meminta dan memberi,
bukankah itu merupakan sesuatu hal yang dikatakan mesra....?.
Seperti cerita di atas ketika Allah mengabulkan pinta kita lalu dengan nafsu manusiawi serakah, kita ingin menguasai sumbernya. Tanyalah pada diri anda sendiri anda ingin apa, setelah hal itu dikabulkan anda mau apa lagi, setelah itu apa lagi… jadi pada intinya yang kita inginkan bukanlah harta, tahta atau apapun.. melainkan Allah itu sendiri!.
Itulah hakikat yang sebenarnya walau banyak manusia yang merasa telah cukup puas ketika pintanya dikabulkan lalu melupakan bahkan menjauh dari Allah, yang memberikan segalanya