kajian ilmu
Mengenal diri agar mengenal Allah
Mengenal diri adalah kunci utama untuk membuka pintu maqam mengenal Allah (ma'rifatullah).
"Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu"
(Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya).
Nasihat ini bukan sekadar merenungi siapa nama atau status sosial kita, melainkan menyadari fitrah dasar keberadaan kita di hadapan Sang Pencipta.
Ketika kita menyadari betapa ringkihnya fisik ini, betapa terbatasnya ilmu kita, dan betapa cepatnya perasaan kita berubah, di situlah kita menyadari betapa Mahakayanya Allah.
Kita tidak mampu bernapas tanpa udara-Nya, tidak bisa melangkah tanpa izin-Nya.
Rasa butuh (iftiqar) inilah yang meruntuhkan kesombongan hati.
Mengenal diri berarti berani menatap ke dalam: mengenali penyakit ujub, riya, dengki, dan hawa nafsu yang sering menguasai dada.
Tanpa menyadari penyakitnya, seseorang tidak akan pernah mencari penawarnya. Ketika kita sadar betapa seringnya kita bermaksiat, kita akan menyaksikan betapa Maha Pengampun dan Maha Penyayangnya Allah yang tetap menutup aib-aib kita.
Renungkan dari mana kita berasal, hanya seetes air yang hina dan ke mana kita akan pergi, tanah yang gelap.
Di antara keduanya, kita hanyalah musafir.
Ketika menyadari bahwa tidak ada satupun milik kita yang abadi, hati akan perlahan melepaskan keterikatan pada dunia dan menggantungkannya penuh hanya kepada Allah.
Allah tidak jauh dari kita. Jiwa yang tenang (nafs al-mutma'innah) adalah jiwa yang telah selesai dengan ego dan kepentingannya sendiri,
lalu menyerahkan seluruh ketundukannya kepada ketetapan Allah.
Jangan mencari Allah di tempat yang jauh sebelum engkau menemukan ketidakberdayaanmu sendiri.
Saat engkau berhenti merasa 'bisa' dan 'berkuasa', pada detik itulah keagungan Allah akan terasa begitu dekat di dalam hatimu.
"Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu"
(Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya).
Nasihat ini bukan sekadar merenungi siapa nama atau status sosial kita, melainkan menyadari fitrah dasar keberadaan kita di hadapan Sang Pencipta.
Ketika kita menyadari betapa ringkihnya fisik ini, betapa terbatasnya ilmu kita, dan betapa cepatnya perasaan kita berubah, di situlah kita menyadari betapa Mahakayanya Allah.
Kita tidak mampu bernapas tanpa udara-Nya, tidak bisa melangkah tanpa izin-Nya.
Rasa butuh (iftiqar) inilah yang meruntuhkan kesombongan hati.
Mengenal diri berarti berani menatap ke dalam: mengenali penyakit ujub, riya, dengki, dan hawa nafsu yang sering menguasai dada.
Tanpa menyadari penyakitnya, seseorang tidak akan pernah mencari penawarnya. Ketika kita sadar betapa seringnya kita bermaksiat, kita akan menyaksikan betapa Maha Pengampun dan Maha Penyayangnya Allah yang tetap menutup aib-aib kita.
Renungkan dari mana kita berasal, hanya seetes air yang hina dan ke mana kita akan pergi, tanah yang gelap.
Di antara keduanya, kita hanyalah musafir.
Ketika menyadari bahwa tidak ada satupun milik kita yang abadi, hati akan perlahan melepaskan keterikatan pada dunia dan menggantungkannya penuh hanya kepada Allah.
Allah tidak jauh dari kita. Jiwa yang tenang (nafs al-mutma'innah) adalah jiwa yang telah selesai dengan ego dan kepentingannya sendiri,
lalu menyerahkan seluruh ketundukannya kepada ketetapan Allah.
Jangan mencari Allah di tempat yang jauh sebelum engkau menemukan ketidakberdayaanmu sendiri.
Saat engkau berhenti merasa 'bisa' dan 'berkuasa', pada detik itulah keagungan Allah akan terasa begitu dekat di dalam hatimu.