kajian ilmu
Keyakinan yang Terkelupas
“Alquran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” [QS. 45: 20]
Setiap kali membaca kisah orang-orang sukses, apalagi dari kalangan orang-orang non-Muslim yang notabene “tidak meyakini Alquran", kita merasa tertampar.
Bukan oleh kesuksesan mereka. Kesuksesan hanya akibat. Yang membuat kita tertampar adalah kemuliaan sikap dan karakter mereka: Rendah hati, tidak mudah tersinggung, selalu bersikap positif, bergairah dalam kerja, “tangan di atas”, tidak mau membicarakan kekurangan orang lain, dan seabrek sikap dan sifat lainnya benar-benar telah menjadi busana keseharian mereka.
Kebaikan hati mereka memukau, padahal di depan mata kita ada Alquran. Boleh dibilang setiap hari kita membaca Alquran.
Kita juga punya Muhammad SAW, sang Nabi. Keseluruhan akhlak Nabi saw. adalah Alquran.
Mengapa akhlak kita tidak semulia sifat dan sikap mereka...?
bahkan masih sangat jauh dari kualitas mulia...
Setelah berkali-kali merenung, ternyata jawabannya adalah:
- Kita “tidak benar-benar yakin” tentang Alquran.
- Kita Tidak benar-benar mempedomani Alquran.
- Tidak benar-benar menjadikan Alquran sebagai petunjuk.
- Tidak benar-benar menjadikan Alquran sebagai kompas kehidupan.
Hanya saja, ketika kita ditanya, “Dalam skala 0 sampai 100, seberapa yakin Anda tentang kebenaran Alquran sebagai petunjuk...?”, kita pasti menjawab 100. Bahkan kita semua biasanya menjawab 100.
Benarkah 100...?
Realitas keseharian kita justru menunjukkan kebalikannya, setidak-tidaknya masih jauh dari 100.
Keyakinan berbanding lurus dengan realitas. Jika keyakinan kita 100, maka realitas kita dalam mempedomani Alquran seharusnya juga 100. Bukankah Alquran sudah menegaskan sebagai pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini...?
Ketika realitas keseharian kita masih bergelimang dengan gunjing, marah, dusta, sombong, prasangka buruk, malas, “tangan di bawah”, mencintai dunia,
maka pada saat itu keyakinan kita menjadi terkelupas dari kalbu, berganti dengan pendustaan.
Kita mendustakan Alquran ketika akhlak buruk masih bersemayam di dalam diri kita. Dan Allah selalu menepati janji dan ancaman-Nya. Hidup kita dipenuhi masalah dan ketidaknyamanan.
Kita menjalani kehidupan yang sempit dalam berbagai pengertiannya.
Sangat wajar apabila sang Nabi pun menjelaskan, “Tidaklah aku khawatir terjadi atas umatku kecuali lemahnya keyakinan.”
Lalu bagaimana supaya kita menjadi yakin...?
Tidak ada cara yang lebih efektif dari praktek.
Praktek membuat kita bisa merasakan.
Praktek membuat kita bisa mengalami.
Dan pengalaman merupakan dalil yang paling akurat.
Ketika kita sudah mengalami, maka keyakinan kita menguat dan terus menguat, sedemikian rupa sehingga segunung argumentasi pun seandainya mencoba membantah niscaya menjadi tertolak dengan sendirinya.
Jadi....?
Langsung action. "Istiqomah" Baca Alquran, pahami, amalkan dan laksanakan.
Alquran dibaca dengan niat untuk dipahami dan dilaksanakan.
Setiap kali membaca kisah orang-orang sukses, apalagi dari kalangan orang-orang non-Muslim yang notabene “tidak meyakini Alquran", kita merasa tertampar.
Bukan oleh kesuksesan mereka. Kesuksesan hanya akibat. Yang membuat kita tertampar adalah kemuliaan sikap dan karakter mereka: Rendah hati, tidak mudah tersinggung, selalu bersikap positif, bergairah dalam kerja, “tangan di atas”, tidak mau membicarakan kekurangan orang lain, dan seabrek sikap dan sifat lainnya benar-benar telah menjadi busana keseharian mereka.
Kebaikan hati mereka memukau, padahal di depan mata kita ada Alquran. Boleh dibilang setiap hari kita membaca Alquran.
Kita juga punya Muhammad SAW, sang Nabi. Keseluruhan akhlak Nabi saw. adalah Alquran.
Mengapa akhlak kita tidak semulia sifat dan sikap mereka...?
bahkan masih sangat jauh dari kualitas mulia...
Setelah berkali-kali merenung, ternyata jawabannya adalah:
- Kita “tidak benar-benar yakin” tentang Alquran.
- Kita Tidak benar-benar mempedomani Alquran.
- Tidak benar-benar menjadikan Alquran sebagai petunjuk.
- Tidak benar-benar menjadikan Alquran sebagai kompas kehidupan.
Hanya saja, ketika kita ditanya, “Dalam skala 0 sampai 100, seberapa yakin Anda tentang kebenaran Alquran sebagai petunjuk...?”, kita pasti menjawab 100. Bahkan kita semua biasanya menjawab 100.
Benarkah 100...?
Realitas keseharian kita justru menunjukkan kebalikannya, setidak-tidaknya masih jauh dari 100.
Keyakinan berbanding lurus dengan realitas. Jika keyakinan kita 100, maka realitas kita dalam mempedomani Alquran seharusnya juga 100. Bukankah Alquran sudah menegaskan sebagai pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini...?
Ketika realitas keseharian kita masih bergelimang dengan gunjing, marah, dusta, sombong, prasangka buruk, malas, “tangan di bawah”, mencintai dunia,
maka pada saat itu keyakinan kita menjadi terkelupas dari kalbu, berganti dengan pendustaan.
Kita mendustakan Alquran ketika akhlak buruk masih bersemayam di dalam diri kita. Dan Allah selalu menepati janji dan ancaman-Nya. Hidup kita dipenuhi masalah dan ketidaknyamanan.
Kita menjalani kehidupan yang sempit dalam berbagai pengertiannya.
Sangat wajar apabila sang Nabi pun menjelaskan, “Tidaklah aku khawatir terjadi atas umatku kecuali lemahnya keyakinan.”
Lalu bagaimana supaya kita menjadi yakin...?
Tidak ada cara yang lebih efektif dari praktek.
Praktek membuat kita bisa merasakan.
Praktek membuat kita bisa mengalami.
Dan pengalaman merupakan dalil yang paling akurat.
Ketika kita sudah mengalami, maka keyakinan kita menguat dan terus menguat, sedemikian rupa sehingga segunung argumentasi pun seandainya mencoba membantah niscaya menjadi tertolak dengan sendirinya.
Jadi....?
Langsung action. "Istiqomah" Baca Alquran, pahami, amalkan dan laksanakan.
Alquran dibaca dengan niat untuk dipahami dan dilaksanakan.